Sunday, May 7, 2017

MUDAH SEKALI MENGURUS BEBAS VISA KE JEPANG


Yey senang sekali rasanya e-paspor saya sudah jadi setelah melewati proses yang cukup mengesalkan di imigrasi Jakarta Selatan bulan Maret lalu. Rasanya impian untuk berlipur ke Jepang benar benar sudah didepan mata. haha. Bagi yang pengen tau cerita saat saya urus e-paspor silahkan bisa baca disini
Dan awal mei kemarin saya mengurus sendiri ke Kedutaan Jepang guna apply visa waiver agar bisa bebas visa ke Jepang. Prosesnya benar-benar sangat mudah dan cepat. Yang lebih menguntungkan lagi dokumen untuk registrasi visa waiver ini benar tidak sebanyak apabila kita akan mengajukan visa biasa. Sebelum datang ke kedutaan jepang yang ada di JL. M.H Thamrin No.24 Jakarta Pusat, dokumen yang saya persiapkan yaitu :
  1. KTP Asli
  2. E-Paspor
  3. Formulir aplikasi (silahkan bisa di download disini )
  • Saya datang ke Kedutaan Jepang sekitar pukul 9 pagi. Apabila ingin mendaftarkan visa ke kedutaan jepang baik itu visa biasa ataupun visa waiver pihak kedutaan memberikan batasan waktu yaitu pukul 8:30 - 12.00 siang. Sehingga usahakan datang pagi hari.
  • Dibagian pintu masuk sudah ada security yang akan memeriksa tas/ jaket yang kita bawa, setelah melewati tahap pemeriksaan kita dipersilahkan masuk, di sebelah kanan ada loket dimana kita diminta untuk menyerahkan identitas diri seperti KTP yang nantinya akan di tukar dengan kartu visitor.
  • Sebelum sampai di ruangan penyerahan dokumen kita akan melewati scanning layaknya saat berada di imigrasi bandara, setelah selesai kita diarahkan masuk ke sebuah ruangan dan didalam ruangan tersebut ternyata sudah banyak orang-orang yang duduk mengantri menunggu dipanggil oleh petugas kedutaan.
  • Ketika sampai saya langsung mengambil nomer antrian di mesin (A). Ternyata di dalam ada 5 loket, lumayan banyak. Namun khusus untuk pengurusan visa ada 3 loket yang melayani.

form untuk registrasi visa waiver
 tanda terima untuk pengambilan epapor
                               
  • Bagi yang belum sempat print dan mengisi form visa waiver di rumah, tidak perlu khawatir di kedutaan juga disediakan form visa waiver, dan jangan lupa mengambil lembaran tanda terima dan diisi sesuai dengan data diri kita
  • Setelah menunggu sekitar setengah jam akhirnya nomer antrian saya di panggil dan saya menyerahkan e-paspor, form registrasi visa waiver dan juga tanda terima kepada petugas kedutaan
  • Setelah petugas selesai memeriksa dokumen saya kemudian tanda terima saya diberi cap dan dikembalikan lagi, petugaspun menginformasikan besok tanggal 5 epaspor saya sudah bisa di ambil dengan membawa tanda terima tersebut. Wah benar-benar pelayanananya sangat baik dan tidak menghabiskan banyak waktu. 2 hari kerja sudah biasa diambil.
  • Keesokan harinya saya datang lagi kekedutaan jepang sekitar jam setengah 2 siang. Untuk pengambilan berkas diberi batasan waktu juga yaitu dilayani mulai pukul 13:30 - 15.00 WIB.
    untuk pengambilan epasport yang dicap bebas visa saya mendapatkan antrian nomer 229


  • Tidak menunggu terlalu lama nomer antrian saya di panggil, setelah saya menyerahkan tanda terima kemudian petugas memberikan epaspor saya yang tentunya sudah di cap bebas visa ke jepaang. aaaa seneng bangeet. :D
    stiker visa waiver

Gimana, gampang banget kan urusnyaa?😁
Nah bagi yang mungkin tidak sempat mengambil sendiri ke kedutaan, untuk pengambilan bisa diwakilkan, teman saya kemarin dititipkan kepada saya dan yang penting jangan lupa bawa bukti tanda terimanya, buat jaga-jaga bisa menyertakan surat kuasa juga. Namun kemarin saya tidak dimintai surat kuasa dari pihak kedutaan.

Yang perlu diingat dan digaris bawahi mengenai visa waiver ini :
  1. Hanya berlaku selama maksimal 15 hari saja, jika memang ingin pergi ke jepang dalam kurun waktu yang lebih lama tetap harus apply visa biasa.
  2.  Masa berlaku visa waiver ini 3 tahun, atau dalam jangka waktu berlakunya e-paspor yang kurang dari 3 tahun
  3. Walaupun sudah epaspor, untuk masuk ke Jepang kita tetap harus apply visa waiver yaa kalo ngga mau dideportasi . Kan serem. hihi
Can't wait buat cerita pengalaman di Jepang besok. 😆



Saturday, March 11, 2017

PENGALAMAN MEMBUAT E PASPOR, NAMUN KTP BEDA WILAYAH

Ini adalah pengalaman pribadi saya, saat sedang mengurus pembuatan e-passport di Jakarta Selatan. Saya pribadi memang baru pertama kali ini membuat pasport dan kenapa membuat e-passport dan bukan pasport biasa karena di pertengahan Mei 2017 ini insyaAllah rencana saya ingin pergi ke Jepang untuk tujuan wisata agar bisa bebas visa. Yah tentu saja tidak benar2 free tanpa visa, setelah e-passport jadi tetap kita harus melakukan pendaftaran e-passport ke Kedutaan Jepang di Jalan MH. Thamrin, Jakarta dengan hanya menyerahkan e-passport dan mengisi form agar bisa mendapatkan visa waiver, tanpa perlu embel-embel dokumen lain seperti saat ingin mengajukan visa Jepang dengan pasport biasa. Intinya dengan adanya e-passport pemerintah memudahkan kita agar prosesnya lebih simpel dan praktis.



Okey sebelum saya ceritakan lengkap proses step by step pengurusan e-passportnya saya informasikan terlebih dahulu, di karenakan untuk pembuatan e-passport ini belum dilayani di semua wilayah dan hanya kota-kota besar tertentu saja, berikut adalah kantor imigrasi yang melayani pembuatan e-passport :
  • Kantor Imigrasi Jakarta Selatan
  • Kantor Imiigrasi Jakarta Barat
  • Kantor Imigrasi Jakarta Pusat
  • Kantor Imgirasi Jakarta Timur
  • Kanotr Imigrasi Jakarta Utara
  • Kantor Imigrasi Tanjung Priok
  • Kantor Imigrasi Soekarno-Hatta
  • Kantor Imgrasi Surabaya
  • Kantor Imigrasi Batam

Untuk keterangan lebih lengkapnya juga bisa mengujungi web resmi imigrasi di http://www.imigrasi.go.id
Dokumen yang diperlukan sama seperti membuat pasport biasa, silahkan benar-benar di persiapkan dengan baik :
  1. Kartu Tanda Penduduk ( KTP atau resi KTP bukan surat permohonan ktp)
  2. Kartu Keluarga (KK atau keterangan bertempat tinggal dari kecamatan)
  3. Akte Kelahiran,Ijazah ,Surat Nikah (Pilih salah satu saja)
  4. Surat Pewarganegaraa bagi yang memperoleh kewarganegaraan Indonesia melaui Pewarganegaraan
  5. Surat Keterangan hilang dari Kepolisian ( untuk penggantian pasport yang hilang)
  6. Pasport Lama (bagi yang melakukan pergantian ke e-passport)
  7. Surat Rekomendasi dari kantor ( Bagi KTP yang domisilinya luar Jabodetabek ini sangat membantu)
  8. Kartu Tanda Mahasiswa  / Kartu Pelajar bagi yang masi pelajar ( Bagi mahasiswa saya sarankan bawa surat keterangan masih kuliah juga dari kampus untuk jaga-jaga)
Dari pengalaman rekan saya ( dia bekerja di perusahaan BUMN di jakarta, e-ktp domisili di jepara), dokumen yang dibawa :
  1. KTP
  2. Akte Lahir
  3. KK
  4. Surat Rekomendasi dari kantor
Itu saja dan nggak ada masalah apapun dalam 14 hari e-passport sudah jadi. Dan membayar 655.000
Sebelum berangkat ke jakarta saya coba tanyakan masalah e-ktp saya, di karenakan ktp saya dari daerah bukan jakarta, apakah membutuhkan surat keterangan domisili juga / tidak saya tanyakan ke humas imigrasi melalui email dan jawaban dari email humas imigrasi infokan berdasarkan peraturan pemerintah saat ini surat keterangan domisi tidak diperlukan lagi.
Karena saya tidak bekerja, jadi dokumen yang saya serahkan di awal
  1. KTP
  2. Akte Lahir
  3. KK
Berbekal dari informasi humas beserta info-info dari rekan saya, akhirnya saya berangkat ke jakarata kemarin di tanggal 9 Maret 2017 untuk pembuatan e-passportnya. Di karenakan untuk urus epassport ini tidak bisa apply online, atau harus walk in interview langsung datang ke kantor maka saya menginap terlebih dalulu d kost teman saya agar besok pagi bisa urus e-passportnya.Kost teman saya berada di daerah setiabudi, jadi rekan saya sarankan saya urus e-passport di Kantor Imigrasi Jakarta Selatan yang lokasinya lebih dekat. Hari Jumat 10 Maret 2017 saya pesan ojek online sekitar jam 5 pagi dan sampai di kantor imigrasi sekitar pukul 05.36, setelah saya sampai ternyata memang bukan mitos antrian disana sudah sangat panjang meskipun saya rasa saya datang cukup pagi. Ada juga yang sampai solat subuh di kantor imigrasi demi mendapatkan antrian pagi. Informasi dari rekan saya yang januari kemarin sudah selesai membuat epassport, pembuatannya diberi kuota, jumlah kuotanya kisaran 200-250 dan tergantung juga tiap kantor imigrasi memiliki kebijakan masing-masing. Di hari jumat pembuatan pasport dilayani jam 06.00. Ada satpam yang bertugas membantu dalam mengatur barisan agar lebih tertib, sebelum mengambil nomer antrian pastikan dokumen asli di persiapkan terlebih dahulu yang nantinya akan di cek oleh petugas di awal. Saat itu saya hanya persiapkan e-ktp, akte lahir dan kk. Ketiga giliran saya maju untuk di periksa dokumen asli, petugas langung menanyai saya, padalah antrian di depan saya tidak ada yang ditanya-tanya langsung di beri nomer antrian. Berikut kurang lebih pertanyaan yang diajukan kepada saya sambil memegang ktp saya.
Petugas : “Mau kemana mbak”
Saya : “ jepang pak”
Petugas : “ ngapain?”
Saya : “jalan-jalan lah”
Petugas : “yakin?! disini kerja/ kuiah?”
Saya : “ saya hanya ingin urus epasport saja, saya gak kerja/ kuliah d jkt pak”
Petugas : “ la disini tinggal dimana?”
Saya : “ saya nginep di kos temen.”
Petugas : wajah bingung, bisik-bisik sama pak satpam sebelah terus ngomong lagi “mbak ini mbakkan ktpnya dari daerah, jadi gak bisa urus mbak”
Saya : “ loh kok gitu pak kan sudah e-ktp, harusnya bisa kan”
Petugas : clingukan pas ada petugas lain yang lewat “ pak pak sebentar, pak ini mbaknya ktpnya dari daerah”
Kemudian saya disuruh menepi, gara-gara saya antrian dibelakang semakin panjang. Si bapak petugas yang kedua kurang lebih menanyakan hal yang sama, namun lebih detail lagi setelah tau saya sudah tidak bekerja si petugas kedua ini malah nanyanya kemana2, mbak ke jepang ada kenalan?” (kebetulan karena memang ada rekan saya yang tinggal disana saya jawab saja iya ada”), malah dia minta dokumen surat undang dari rekan saya yang di jepang, kontaknya mana (ini harusnya diperlukan saat pengjuan visa dengan pasport biasa, lah saya baru mau pengajuan epasport paak!), si bapak terkesan nakut-nakutin saya yang beliau infokan beberapa tahun terakhir ini banyak di deportasi dari jepang, di rekening tabungan juga paling nggak ada uang 35jta mbak. Mending mbak pikir pikir lagi aja. Duh ini udah agak kesel ya, bukanya saya diberikan solusi dokumen tambahan apa kalo ktp saya dari daerah agar bisa bikin epasport malah si bapak bilang gitu. Saya nggak mau pulang begitu saja dengan tangan kosong dan tanpa kejelasan, akhirnya saya tanyakan lagi kebapaknya, terus ini dokumenya apa pak tambahanya biar saya bisa dapet nomer antrian? si bapak tadi saranin saya nanti temuin pak ruri aja mbak di dalem (nah itu syapa lagi). Saya tegesin lagi ni ke bapak petugas kedua tadi, saya udah antri dari pagi, dokumen saya sudah sesuai mending saya di kasi nomer antrian aja dulu pak biar nanti saya urus di dalem, akhirnya si bapak petugas kedua itu anter saya ke petugas pertama tadi dan saya diberi nomer antrian beserta formulir pengisian.
Gara-gara petugas yang membuat ribet prosedur saya dapet antrian nomer 145 yang harusnya mungkin saya bisa dapat antrian nomer 100. Singkat cerita saya coba tunggu sampai jam 8 dan coba tanyakan dibagian informasi mengenai pak ruri sudah datang/belum, petugas bagian informasi infokan belum datang, dan si ibuk bagian informasi tanyakan hal yang sama juga dan saya jelaskan permasalahanya, si ibuk bagian informasi malah menjawab saya dengan jutek “ bikin pasport biasa aja kenapa sih”. Dan saya sudahi pembicaraan saya dengan siiibuk bagian informasi yang sangat tidak ramah menurut saya. Akhirnya sekitar jam 11.45 no.antrian saya d panggil, dan saat sudah masuk di bagian interview di dalam petugasnya malah lebih santai. Sebenarnya saya mengambil s2 di univ suwasta di semarang, sehingga sebelum masuk ke ruangan interview saya fotocopy dan saya lampirkan juga ktm saya
Jadi dokumen yang saya bawa masuk :
  1. KTP
  2. KK
  3. Akte Lahir
  4. KTM ( Kartu Tanda Mahasiwa)

Suasana saat antri menunggu nomer antrian di panggil.




saat mendapatkan nomer antrian kita diberi stopmap kuning, dan didalamnya berisi form yang harus diisi


setelah menunggu nomer antrian di panggil kurang lebih 2 jam, akhirnya giliran saya masuk ke proses wawancara. Di dalam lebih singat-singkat saat interview. sambil petugas menginputkan data-data saya
Petugas : “tinggal dimana”
Saya : “setiabudi pak (saya sebutkan saja alamat kosan rekan saya)”
Petugas : “besok susulin surat keterangan domisili ya”
Saya : “lah saya disini numpang pak, orang Cuma urus epasport doang”
Petugas : “loh emang tinggal dimana?”
Saya : “semarang lah, kan saya masi kuliah d sana”
Petugas : “ o gitu, kirain di jakarta (petugas sempat salah dengar nama univ saya dengan nama univ d jakarta karena namanya mirip, dikira saya merantau ke jakarta, karena dokumen syarat e pasport yang saya baca ngga benar2 dibaca oleh bapak petugas), jauh amat kesini Cuma ngurus ini aja”
Saya : “ yaiyalah pak, kan paling deket ke jakarta, kalo d semarang ada mah udah saya buat d sana”. kemudian si bapak hanya bilang oh gitu ya mbak. Dan segeralah saya di persilahkan untuk melakukan foto dan scan sidik jari. Prosesnya hanya kurang lebih sekitar 15 menit di dalam. Si Ibu petugas kemudian menyerahkan slip yang dipergunakan saat akan melakukan pembayaran.
slip yang digunakan untuk pembayaran


Lega saya. Setelah itu saya melakukan pembayaran di bawah. Tidak perlu khawatir lagi saat ini pembayaran epasport sudah bisa d bayarkan d beberapa bank persepsi baik itu dr atm atau setoran tunai langsung ke teller. Proses pembuatan e-passport 14 hari kerja dihitung semenjak kita sudah melakukan pembayaran. Kemarin saya bayar tgl 10, jadi kira2 e-passport saya sudah bisa di ambil tgl 30 maret 2017. Ingat ya e-passport baru akan di proses setelah kita sudah melakukan pembayaran, bukan dihitung dari pengurusan, dan maksimal pengambilan 30hari setelah proses passport kita jadi, jika melebihi maka dianggap hangus. Maksimal pembayar  7hari kerja sejak melakukan permohonan pengajuan passport.
Nah demikian pengamlanan saya saat proses pembuatan e-passport di jakarta lalu. Saya sarankan bagi yang ingin mengurus e-passport benar-benar di persiapkan dokumen yang diperlukan sehingga tidak memakan banyak waktu. 🙂